Pendidikan Saat Masa Pandemi Covid 19 Di Indonesia

 

PENDIDIKAN SAAT MASA PANDEMI

 COVID 19 DI INDONESIA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Talitha Amelia

21220611

1EB12

 

 

 

 

 

 

 

 

 

UNIVERSITAS GUNADARMA

ATA 2020-2021





1. Pendahuluan

1.1. Latar Belakang

            Corona Virus Disease 2019 ini awal penyebarannya terjadi di kota Wuhan (Okada et al., 2020),China pada penghujung tahun 2019. Virus ini menyebar dengan sangat masif sehingga hampir semuanegara melaporkan penemuan kasus Covid-19, tak terkecuali di negara Indonesia yang kasuspertamanya terjadi di awal bulan Maret 2020. Sehingga merupakan hal yang wajar banyaknya negarayang mengambil kebijakan sesuai dengan situasi dan kondisi di negara masing-masing dan membuat hubungan antara beberapa negara menjadi tidak berjalan baik salah satu nya autrasilia dengan negara-negara pasifik (Laila, 2020), akan tetapi kebijakan yang paling banyak diambil adalah denganmemberlakukan lockdown yang dianggap sebagai strategi tercepat memutus mata rantai penyebaranvirus yang satu ini.

Covid 19, Penyebaran virus ini bisa ditempat umum atau kerumunan, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat mengatakan penyebaran virus ini melalui kontak fisik seperti berjabat tangan maka dianjurkan agar mencuci tangan dengan benar dan baik sesuai langkah serta menggunakan masker jika keluar rumah untuk pencegahan penyebaran Corona Virus.

Akibat dari pandemi Covid-19 membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan baru demi menghentikan pemencaran Covid-19 yaitu mengimplementasikan ajakan masyarakat untuk melaksanakan Physical Distancing atau memberi jarak dengan orang lain sejauh satu meter dan menghindari kerumunan dan berbagai acara pertemuan yang menimbulkan perkumpulan (Covid-19, 2020). Selain itu pemerintah menerapkan kebijakan untuk Dirumah Saja seperti kerja dirumah atau Work From Home (WFH) dan kegiatan apapun yang berhubungan dengan perkumpulan atau pertemuan ditiadakan dan diganti dengan media online. (Kemendikbud, 2020) mengeluarkan Surat Edaran tentang Pembelajaran secara Daring dan Bekerja dari Rumah dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Covid-19. Isi dari surat ini salah satunya adalah meliburkan kegiatan belajar mengajar dan mengganti dengan pembelajaran berbasis jaringan (Daring) via E-learning yang dapat digunakan berbagai instansi pendidikan.

Pada kondisi seperti ini semua guru atau tenaga pendidik diharuskan untuk mengganti pembelajaran menggunakan E-learning atau melalui media online. Berbagai platform digunakan untuk melakukan pengajaran sehingga perlu didukung dengan fasilitas pembelajaran yang baik dan pemanfaatan teknologi informasi (Rusman, 2019). Seluruh siswa diwajibkan untuk menggunakan alat komunikasi seperti Handphone dengan bijak untuk mendukung proses pembelajaran. Pembelajaran daring dengan tatap muka melalui aplikasi menjadi hal yang paling menguntungkan guna memutus penyebaran Covid-19 serta menjaga kesehatan keselamatan jiwa guru dan siswa dari terpaparnya virus tersebut (Jamaluddin, Ratnasih, Gunawan, & Panjiah, 2020).

Situasi pandemi Covid-19 seperti ini, pembelajaran daring diatur melalui Surat Edaran Kemdikbud mengenai Pelaksanaan Pendidikan Dalam Masa Darurat Covid-19 terdapat kebijakan yaitu pembelajaran daring guna memberikan sebuah pengalaman belajar yang sangat bermakna, tidak menjadi beban dalam menyelesaikan semua kurikulum untuk kelulusan, pembelajaran dititikberatkan pada pengembangan kecakapan hidup yaitu tentang pandemi Covid-19 dan pembelajaran tugas dapat divariasi antar siswa, mengikuti bakat dan minat serta keadaan masing-masing termasuk meninjau kembali kesenjangan fasilitas belajar yang dimiliki dirumah (Kemendikbud, 2020).

 

 

1.2. Masalah

1.      Bagaimana mengatasi tantangan pembelajaran daring?

2.      Bagaimana dampak Covid 19 terhadap pendidikan?

3.      Bagaimana strategi pembelajaran pada masa pandemi Covid 19?

 

1.3. Tujuan

1.      Untuk mengetahui cara mengatasi tantangan pembelajaran daring.

2.      Untuk mengetahui dampak Covid 19 terhadap pendidikan.

3.      Untuk mengetahui strategi pembelajaran pada masa pandemi Covid 19.

 

 

2. Pembahasan

Mengatasi tantangan pembelajaran daring

Pembelajaran   dengan   menggunakan   teknologi   baru   memang   telah   berjalan selama beberapa  dekade.  Akan  tetapi,  dapat  dikatakan bahwa  dampak transformational  sebagaimana yang   diharapkan   belum   tercapai (Trucano,   2014).   Sehubungan   dengan   itu, peralihan   ke pembelajaran daring tentu saja bukanlah solusi yang benar-benar sempurna.

Beberapa  kritik  muncul  tentang  apakah  perlu  perubahan  seperti  itu tanpa keterlibatan insititusi yang memadai. Lainnya mempertanyakan apakah model yang hanyamenggunakan  daring  akan  menghukum  siswa  yang  mungkin  tidak  memiliki  akses  digital  atau internet (The Chronicle of Higher Education, 2020).

          Pelaksanaan  pembelajaran  daring  bukan  tanpa  masalah.  Di  beberapa  negara,  dilaporkan bahwa  di  antara  mereka  yang  mengadopsi  pembelajaran  daring,  rata-rata  manfaat  sebenarnya jauh   lebih   kecil   daripada   yang   diharapkan.   Masalah   jaringan,   kurangnya   pelatihan,   dan kurangnya   kesadaran   dinyatakan   sebagai   tantangan   utama   yang   dihadapi   oleh   pendidik. Kurangnya   kesadaran   dinyatakan   sebagai   alasan   paling   penting   oleh   mereka   yang   tidak mengadopsi pembelajaran daring diikuti oleh kurangnya minat dan keraguan tentang kegunaan pembelajaran daring.  Kurang  kehadiran,  kurangnya  sentuhan  pribadi,  dan  kurangnya  interaksi karena masalah konektivitas ditemukan menjadi kelemahan signifikan dari pembelajaran daring (Arora & Srinivasan, 2020). Menurut M. Wahyudi (2020)fakta di lapangan, kewajiban belajar di rumah  menjadi  kendala  serius  khususnya  peserta  didik  dari  kalangan  yang  kurang  beruntung secara ekonomi. Mereka sering mengeluhkan habisnya paket kuota internet. Teknologipun dianggap dapat membangun sikap instan bagi para penggunanya.

            Selain   itu,   menurut Anugrah   (2020)seiring   perjalanan   waktu   muncul   banyak permasalahan  dalam  implementasi  pembelajaran  daring.  Di  antara  permasalahan  itu  adalah tugas guru yang terlalu banyak dan keluhan soal kuota dan jaringan internet yang serba terbatas. Kondisi  tersebut  sejalan  dengan  hasil  riset  Kementerian  Pemberdayaan  Perempuan  dan Perlindungan Anak pada bulan Maret 2020 dengan subyek peserta didik usia 14-17 tahun (69% perempuan  dan  31%  laki-laki)  berjumlah  717  dari  29  provinsi  di  seluruh  Indonesia.  Hasil menunjukkan bahwa 58% peserta didik tidak suka menjalani program belajar dari rumah. Faktor penyebabnya  adalah  peserta  menganggap  bahwa  komunikasi  dengan  teman  menjadi  terbatas, mereka mengalami keterbatasan teknologi: berupa fasilitas internet, gawai, dan buku elektronik. Mereka juga mengangap bahwa sekolah tidak memiliki program yang baik untuk sistem belajar di rumah. Sekolahdan guru hanya memberi tugas secara beruntun sesuai rencana pelajaran dan materi pelajaran dalam kondisi non-pandemi/kondisi biasa (Satriawan, 2020).

            Komisi  Perlindungan  Anak  Indonesia  juga  melaporkan  bahwa  mereka  telah  menerima sebanyak  213  pengaduan peserta  didik dan  orang tua  di  berbagai  daerah  terkait pembelajaran daring.  Kebanyakan  peserta  didik  melaporkan  perihal  tugas  harian  yang  diberikan  guru  yang dianggap berat sementara waktu pengerjaan rekatif pendek. Proses pembelajaran daring terasa semakin berat bagi peserta didik yang tidak memiliki kuota internet, atau bahkan mereka tidak memiliki komputer (Madrim, 2020). Meskipun  demikian,  patut  diduga  bahwa  ada  satu  hal  yang  menjadi  pendukung  atau pendorong positif, yaitu semakin tingginya angka pengguna smartphone-sehingga menyebabkan teknologi ini menjadi kebutuhan primer-mendorong  kemudahan  mengakses internet secara massif dan lebih luas. Menurut Mila   (2018),   banyaknya   penduduk   yang   menggunakan smartphone menyebabkan   teknologi   ini   yang   paling   banyak   digunakan   untuk   mengakses internet.   Pada   tahun   2014   saja, akses   internet   di   Indonesia sebesar 85% menggunakan smartphone.

 

Dampak Covid 19 terhadap pendidikan

            Dalam pendidikan, sangat penting untuk memungkinkan semua peserta untuk berkembang atau tumbuh sebagai manusia utuh daripada hanya memperpanjang pengetahuan mereka tentang beberapa materi pelajaran atau praktik. Pendidikan ini berkarakteristik pendidikan humanis (Mustapa,2019). Sekolah secara keseluruhan merupakan media interaksi antar siswa danguru untuk meningkatkan kemampuan integensi, skill dan rasa kasih sayang diantara mereka.

            Protokol kesehatan yang dikeluarkan olehpemerintah dan juga adanya sebuah aturan aturan yang dikeluarkanpemerintah ataupun Menteri terkait dengan karantina kesehatan gunamemutus mata rantai masyarakat yang terpapar oleh covid-19. Salahsatu aturan nya yaitu, Menteri Nadiem Anwar Makarim menerbitkanSurat Edaran Nomor 3 Tahun 2020 pada Satuan Pendidikan dan Nomor36962/MPK.A/HK/2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan dalam MasaDarurat Coronavirus Disease (COVID-19) maka kegaiatan belajardilakukan secara daring (online) dalam rangka pencegahan penyebarancoronavirus disease (COVID0-19). Mengakibatkan seluruh instansi Pendidikan dan sebagainya untuk meniadakan kegiatan kegiatan yangbertatap muka atau langsung dikarenakan bisa berpotensi sebagaitempat yang rawan terpapar oleh virus covid-19 ini, sesuai dengan slogan yang ramai di media media yaitu “DIRUMAHAJA” segala aktivitas yang dilakukan diluar rumah di tiadakan sementara. Sehingga prosespembelajaran dilakukan dirumah.

            Pada situasi seperti ini seakan memaksa Pendidikan beralih darisistem pembelajaran tradisional menjadi pembelajaran yang lebih modern. Dikarenakan metode pembelajaran yang berbeda, sebelum adanya virus covid-19 kegiatan belajar masih bertatap muka langsung dengan guru ataupun dosen. Namun sekarang, dialihkan menjadi E-learning yang bisa diakses untuk belajar.

 

Strategi pembelajaran pada masa pandemi Covid 19

Strategi pembelajaran menurut Darmayah (2010:17) adalah suatu tindakan pengorganisasian isi pelajaran, menyampaikan isi pelajaran, dan pengelolaan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan berbagai sumber belajar yang digunakan pendidik dalam mendorong tercapainya proses kegiatan belajar yang efektif dan efisien. Berdasarkan pendapat tersebut strategi merupakan sebuah usaha yang dilakukan dalam penyampaian isi pelajaran untuk memperoleh tujuan pendidikan tertentu, seperti meningkatkan hasil belajar siswa ataupun menciptakan suasana belajar kelas yang efektif dan efisien.

Setiap tahap yang terdapat pada strategi pembelajaran diharapkan dapat mencapai tujuan tertentu, dan siswa dapat meraih hasil yang baik dalam pembelajaran sebagai hasil akhirnya. Seorang pendidik harus memiliki potensi dalam menyusun sebuah strategi pembelajaran agar dapat tercapai tujuan belajar yang mengacu pada hasil akhir belajar siswa.

Terdapat dua hal yang perlu dicermati mengenai definisi strategi pembelajaran, antara lain : (Ahmadi, 2011:12)

a.       Strategi pembelajaran merupakan suatu rangkaian kegiatan dalam penggunaan metode belajar dan kegiatan memanfaatkan sumber daya tertentu dalam pembelajaran. Hal ini merupakan suatu penyusunan strategi yang masih dalam tahap rencana kerja, belum tertuju pada sebuah tindakan kegiatan.

b.      Strategi yang disusun guna meraih suatu tujuan, penyusunan strategi pembelajaran digunakan untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam penyusunannya yang berisi tahap-tahap pembelajaran, pemanfaatan fasilitas belajar, dan sumber belajar ditujukan agar tercapai suatu tujuan.

Supaya dapat melaksanakan strategi pembelajaran dengan efektif terdapat beberapa unsur stategi dasar, antara lain:

1.      Menentukan spesifikasi dari kualifikasi perubahan tingkah laku, tujuan pembelajaran harus dirumuskan secara spesifik dalam arti menuju pada perubahan perilaku dan operasional yang dapat diukur.

2.      Memilih pendekatan pembelajaran yakni suatu cara dalam menyampaikan apa yang telah direncanakan untuk mencapai tujuan tertentu. Kegiatan pembelajaran harus dipertimbangkan dan dipilih mana jalan pendekatan yang paling utama, tepat dan efektif.

3.      Memilih dan menetapkan metode, teknik, dan prosedur pembelajaran. Metode yakni cara yang dipilih utnuk menyampaikan bahan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Teknik yaitu cara untuk melaksanakan metode dengan sarana penunjang pembelajaran yang telah ditentukan dengan memperhatikan kecepatan dan ketepatan belajar. Kemudian merancang penilaian, remidial, dan pengayaan.

3.

Menurut Nurdyansyah (2015:51-53) terdapat strategi dan ciri-ciri pengajaran dalam menghadapi modalitas belajar siswa, strategi pembelajaran ini menghadapi belajar siswa secara visual antara lain:

a.       Menggunakan materi visual seperti gambar, diagram, dan peta.

b.      Mengunakan warna untuk menandai hal-hal yang penting.

c.       Dirangsang untuk membaca buku-buku ilustrasi.

a.       Menggunakan multimedia.

b.      Mendorong anak mengilustrasikan imajinasinya dan gambar.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pengertian strategi pembelajaran merupakan suatu rencana kegiatan yang menggunakan metode tertentu di mana tindakan tersebut kemudian diterapkan pada proses pembelajaran oleh pendidik kepada siswa sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

 

3. Penutup

3.1. Simpulan

Pembelajaran daring di tengah pandemi covid-19 ini seakan-akan memaksa semua manusia harus siap terhadap perkembangan teknologi saat ini. Jika dilihat dalam perspektif sosiologi, kebijakan ini merupakan langkah yang tepat dilakukan dalam kondisi seperti ini. Seperti ada percepatan agar masyarakat lebih cepat maju, dengan teknologi internet sekarang, misalnya dengan belanja dengan system online, lebih disukai masyarakat dan mengurangi waktu dan biaya transfort, apalagi masa covid-19. Karena lebih aman dan sehat. Kita harapkan semoga pandemi covid-19 lekas berakhir, semua warga bangsa senantiasa sehat dan proses kehidupan dapat berjalan normal kembali dengan menciptakan manusia manusia baru yang memiliki pola pikir positif yang sarat solidaritas sosial.

 

3.2. Saran

Solusi dan harapan dalam pembelajaran dengan menggunakan sistem daringmenjadi topik yang menarik dalam masa pandemi Wabah Covid-19 ini. Meski dalam kondisi yang serba terbatas karena pandemi COVID-19 tetapi masih dapat melakukan pembelajaran dengan cara daring. Hanya hal yang menjadi hambatan adalah orang tua harus menambah waktu untuk mendampingi anak-anak. Sedangkan dari segi guru/dosen, guru/dosen menjadi paham teknologi dan dituntut untuk belajar banyak hal khususnya pembelajaran berbasis daring. Sistem pembelajaran daring ini dapat dijadikan sebagai model dalam melakukan pembelajaran selanjutnya.


 

Referensi

 

Anugraha, A. (2020). Hambatan, Solusi, dan Harapan : Pembelajaran Daring Selama Masa Pandemi Covid 19 Oleh Guru Sekolah Dasar. 288.

Khoirunnissa. (2020). Pembelajaran Online Pada Masa Pandemi Covid 19 sebagai Strategi Pembelajaran Dan Capaian Hasil Belajar Pada Siswa Kelas III B MI Al-Ittihaad Citrosno . 34-37.

Nissa, M. H. (2020). Efektisitas Hasil Pembelajaran Di Era Pandemi Covid-19 Siswa Kelas VII SMP Muhammadiyah Ahmad Dahlan Sukaharjo . 1-3.

Pamungkas, M. D. (2020). Tantangan Pendidikan Di Indonesia Di Masa Pandemi Covid 19. 2-4.

Poncojari Wahyono., H. H. (2020). Guru profesional di masa pandemi COVID-19: Review implementasi, tantangan, dan solusi pembelajaran daring. Jurnal Pendidikan Profesi Guru, 55-57.

Siahaan, M. (2020). Dampak Pandemi Covid 19 Terhadap Dunia Pendidikan. 5.

Wahidah, I. A. (2020). Pandemik COVID 19: Analisis Perencanaan Pemerintah dan Masyarakat dalam berbagai Upaya Pencegahan . Jurnal Manajemen Dan Organisasi, 183.

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Makalah Ekonomi Koperasi Koperasi Unit Desa

Tentang Bisnis